Minggu, 22 Maret 2020

2 Karyawan Indosat Ooredoo Positif Covid-19

2 Karyawan Indosat Ooredoo Positif Covid-19
Dua karyawan Indosat Ooredoo dinyatakan positif Covid-19 . Kedua karyawan tersebut bekerja di kantor pusat Indosat Ooredoo di Jakarta.

2 Karyawan Indosat Ooredoo Positif Covid-19

Diungkap SVP-Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Turina Farouk, saat ini kedua karyawan yang positif Covid-19 telah dalam penanganan medis dengan baik dan intensif.

"Perusahaan berharap mereka dapat segera sehar dan pulih serta terbebas dari Covid-19 . Perusahaan memastkan bahwa penanganan karyawan yang terkena virus telah sesuai dengan prosedur medis dan kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah," kata Turina, dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Senin (23/3/2020) pagi.

Turina menyebut, sejak virus corona mulai menyebar dan menjadi perhatian bersama, Indosat Ooredoo langsung melakukan berbagai upaya pencegahan dan perlindungan bagi karyawan agar aman dan terhindar dari penyebaran virus corona.

Terapkan Work from Home
Base Transceiver Station (BTS) milik Indosat. (Doc: Indosat Ooredoo)
Misalnya, Indosat Ooredoo menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home), disinfektasi di seluruh kantor operasional dan pusat layanan pelanggan, serta pelaksanaan protokol pengukuran suhu tubuh terhadap setiap karyawan dan tamu perusahaan. Indosat Ooredoo juga memberikan informasi terkini terkait virus corona kepada karyawan.

"Perusahaan memastikan telah mengikuti seluruh kebijakan dari pemerintah dalam menghadapi dan menangani wabah ini, sebagai komitmen untuk terus melindungi karyawan dan pelanggannya," kata Turina.

Indosat juga terus memberikan layanan terbaik agar masyarakat dapat tetap beraktifitas dan tetap produktif dengan semaksimal mungkin memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan digital dalam menghadapi situasi yang sulit saat ini.

Arti ODP, PDP, hingga Imported Case yang Masuk Kamus Corona COVID-19

Arti ODP, PDP, hingga Imported Case yang Masuk Kamus Corona COVID-19
Arti ODP, PDP, hingga Imported Case yang Masuk Kamus Corona COVID-19

Tak sedikit istilah baru yang didengar masyarakat yang berkaitan dengan pasien virus corona atau COVID-19. Mulai dari ODP, PDP, suspect , dan cara penyebaran virus corona itu sendiri.

Dari penyakit yang sudah menjadi pandemi ini, masyarakat jadi paham dengan bermacam-macam istilah virus corona dalam dunia medis. Apa saja kira-kira?

Dirangkum Okezone Senin (23/3/2020), ini dia ulasan selengkapnya, yang mesti dipahami. Yuk simak!

ODP
Orang Dalam Pemantauan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendefinisikan ODP adalah sebutan untuk orang yang melakukan perjalanan dari negara terjangkit atau zona lain yang terjangkit di Indonesia.

PDP
Pasien Dalam Pengawasan, jika ODP di atas mengalami sakit maka statusnya langsung naik menjadi PDP. Sakit dalam gejala influenza sedang atau berat, misalnya ada batuk, flu, demam dan gangguan pernafasan seperti merasakan sesak.

Suspect
Apabila seseorang yang tadinya berstatus sebagai PDP pernah kontak dekat dengan orang yang positif terinfeksi COVID-19, maka orang yang awalnya berstatus PDP ini naik menjadi s uspect .

Carrier
Orang yang membawa alias pembawa virus. Pembawa virus biasanya bersifat asimtomatik, atau tidak bergejala. Tidak demam, tidak batuk, tubuh terasa fit, tidak mengalami sesak nafas. Padahal ada virus yang ia bawa di dalam tubuhnya, dan bisa menularkan ke orang lain.

Pemeriksaan spesimen
Pemeriksaan yang dilakukan pada orang-orang berstatus suspect , dilakukan dengan cara SWAB yakni tes menggunakan apusan tenggorokkan atau apusan kerongkongan. Namun saat ini, pemeriksaan spesimen sudah tidak perlu menunggu suspect terlebih dahulu. Sebab semua orang yang berstatus sebagai PDP sekarang harus diperiksa agar hasil penemuan bisa diperoleh cepat.

Imported case
Imported case artinya seseorang terinfeksi ketika sedang berada di luar negeri, baru ketahuan sakit dan positif setelah kembali ke negaranya masing-masing.

Local Transmission
Dalam Bahasa Indonesia artinya transmisi lokal. Artinya seseorang tertular dan menjadi pasien positif terinfeksi virus corona COVID-19 di wilayah yang ada kasus ditemukan.

Self isolation
Artinya mengisolasi diri sendiri di rumah. Tujuannya membatasi diri sendiri untuk berinteraksi dengan orang lain.

Presiden Jokowi : 105 ribu APD segera didistribusikan

Presiden Jokowi : 105 ribu APD segera didistribusikan
Presiden Jokowi : 105 ribu APD segera didistribusikan

Masih banyak keluhan soal kelangkaan APD. Perlu saya sampaikan sekarang ini 180 negara semuanya berebut untuk mendapatkan, baik itu APD, baik itu masker, baik itu sanitizer (cairan pembersih) ...

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo menyampaikan pemerintah segera mendistribusikan 105 ribu Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis yang menangani pandemi COVID-19.

“Pada Sabtu (21/3) kemarin, kita telah siapkan lagi 105 ribu APD yang pada hari ini akan didistribusikan ke seluruh rumah sakit di Tanah Air,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui video conference dari RS Darurat COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin.

Kepala Negara menjelaskan saat ini sebanyak 180 negara yang terjangkit COVID-19 saling berkompetisi untuk mendapatkan pasokan APD dan juga alat-alat kesehatan lainnya. Namun, Indonesia telah mendapatkan tambahan pasokan sebanyak 105 ribu unit yang akan langsung didistribusikan ke berbagai wilayah Tanah Air yang memiliki kasus positif infeksi SARS-CoV-2.

“Masih banyak keluhan soal kelangkaan APD. Perlu saya sampaikan sekarang ini 180 negara semuanya berebut untuk mendapatkan, baik itu APD, baik itu masker, baik itu sanitizer (cairan pembersih), dan kita alhamdulillah, pada Sabtu kemarin kita telah siapkan lagi 105 ribu APD,” ujar dia.

Pemerintah mendistribusikan APD paling banyak untuk DKI Jakarta, Bogor dan Banten dengan total 45 ribu unit. Kemudian, 40 ribu unit lainnya dibagikan untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta dan Bali.

Selanjutnya 10 ribu unit APD lainnya didistribusikan keluar Pulau Jawa dan Bali.

“Serta 10 ribu APD lainnya sebagai cadangan,” ujar dia.

Presiden Joko Widodo, Senin pagi, meninjau kesiapan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, untuk menjadi Rumah Sakit Darurat COVID-19.

Presiden Jokowi tiba di Wisma Atlet pukul 09.03 WIB dan disambut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Presiden langsung memasuki salah satu menara di Wisma Atlet yang akan difungsikan untuk merawat pasien COVID-19.

Kepala Negara kemudian meninjau berbagai fasilitas kesehatan untuk penanganan pasien COVID-19, seperti instalasi ruang gawat darurat, ruang inap pasien, dan juga alat-alat kesehatan seperti ventilator, dan juga Alat Pelindung Diri bagi perawat dan dokter.

Wisma Atlet memiliki kapasitas rawat inap hingga 24 ribu orang. Namun dalam tahap awal, kapasitas yang akan disiapkan untuk merawat pasien COVID-19 baru untuk 3000 orang.

Adapun total pasien positif COVID-19 hingga Minggu (22/3), 514 orang, sedangkan jumlah yang meninggal dunia 48 orang, dan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh menjadi 29 orang.

Jumat, 20 Maret 2020

Mengapa Kasus Corona di Rusia dan Afrika Rendah, Ini Penjelasannya

Mengapa Kasus Corona di Rusia dan Afrika Rendah, Ini Penjelasannya
Mengapa Kasus Corona di Rusia dan Afrika Rendah, Ini Penjelasannya

PANDEMI virus corona (COVID-19) telah menyebar hingga ke lebih dari 160 negara. Meski demikian, sebagian negara melaporkan bahwa sangat sedikit bahkan tidak ada kasus COVID-19. Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan bagi negara-negara lain dengan banyak kasus COVID-19.

Seperti diketahui, penyebaran penyakit menular adalah proses rumit yang melibatkan banyak faktor. Tetapi pada intinya, semua hal ini terkait dengan pergerakan manusia. Ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk memperkirakan pergerakan manusia secara kasar.

Perjalanan (masuk dan keluar), migrasi, perdagangan dan jarak bisa menjadi faktor penyebaran COVID-19 ke beberapa negara di luar China. Hal yang paling mengejutkan seputar COVID-19 adalah bahwa hanya ada 63 kasus orang terinfeksi yang dilaporkan di seluruh Rusia.

Padahal Rusia memiliki hubungan perjalanan, emigrasi, imigrasi, dan perdagangan yang sangat kuat dengan China. Jumlah kasusnya yang sangat rendah menimbulkan pertanyaan terutama bagi negara-negara lain yang memiliki hubungan dekat dengan China seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Beberapa negara tersebut justru mengalami transmisi lokal yang signifikan. Menariknya lagi bahwa di 15 negara yang berbagi perbatasan darat atau laut dengan China hanya terdapat 310 kasus yang telah dilaporkan. Hanya India yang melaporkan lebih dari 100 kasus dan sepuluh negara telah melaporkan antara nol dan lima kasus.

Selain itu Afrika dan beberapa wilayah lain di dunia belum melaporkan adanya kasus COVID-19. Dari catatan khusus bahwa di benua Afrika, hanya Mesir yang melaporkan 126 kasus, dengan sebagian besar negara melaporkan antara nol hingga lima kasus. Untuk 54 negara lain di Afrika, hanya ada 253 kasus dari 167.519 kasus di seluruh dunia.

Melansir dari Greek Reporter, Sabtu (21/3/2020), ada beberapa kemungkinan yang menjadi alasan rendahnya jumlah kasus COVID-19 di banyak negara ini. Saat ini masih dalam tahap awal pandemi COVID-19, sehingga tidak mengherankan bahwa beberapa negara belum memiliki kasus dan belum mengalami penularan virus lokal.

Tetapi mengetahui alasan mengapa sebagian negara memiliki kasus COVID-19 yang rendah sangat penting bagi upaya global untuk menahan penyebaran pandemi ini. Ada sejumlah penjelasan untuk angka kasus rendah, termasuk koneksi perjalanan yang lemah, penyaringan perbatasan yang efektif dan pembatasan perjalanan, efek iklim lokal, kurangnya penyaringan atau kurangnya pelaporan.

Ketika mempertimbangkan perjalanan, banyak negara yang disinyalir memiliki tingkat pertukaran perjalanan yang sangat rendah dengan China. Ini diperkuat oleh pembatasan perjalanan yang diterapkan oleh China selama tahap awal wabah. Hal inilah yang mungkin telah menunda kedatangan COVID-19 ke banyak negara di seluruh Afrika.

Dalam skenario ini, jumlah kasus diprediksi akan meningkat secara signifikan selama dua minggu mendatang. Pasalnya transmisi ekstensif sedang berlangsung di banyak negara Eropa dengan hubungan perjalanan yang kuat ke Afrika.

Beberapa negara dengan perjalanan, migrasi, dan hubungan perdagangan yang sangat baik dengan China masih memiliki jumlah kasus kecil yang sebanding seperti Jepang dan Singapura yang memiliki kurang dari 1.000 kasus.

Untuk negara-negara lainnya, telah dilakukan penyaringan, kontrol dan pengawasan perbatasan awal dan ekstensif, yang memungkinkan akan menahan transmisi lokal. Jika langkah-langkah ini dilakukan, maka negara-negara ini mungkin hanya akan mengalami sedikit peningkatan dalam kasus COVID-19 selama beberapa minggu mendatang.

Daftar Lengkap Sebaran 224 Orang Positif Virus Corona di Jakarta

Daftar Lengkap Sebaran 224 Orang Positif Virus Corona di Jakarta
Penyebaran virus corona di Indonesia terus meningkat. Hingga 20 Maret 2020, tercatat ada 369 kasus positif corona di Indonesia sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret.

Sementara kasus terbanyak berada di wilayah DKI Jakarta. Dalan situs resmi pemantauan milik Pemprov DKI, tercatat ada 224 kasus positif di Jakarta. Masyarakat dapat mengakses corona.jakarta.go.id untuk mendapat informasi terkait sebaran corona di Jakarta.

Berdasarkan data Pemprov DKI, tercatat sudah 20 orang meninggal akibat virus corona. Sementara 13 orang dinyatakan sembuh, 125 masih diisolasi di rumah sakit, dan 66 orang melakukan isolasi mandiri.

Dari seluruh kasus di Jakarta ini, Pemprov DKI mencatat penyebaran corona ada di 161 kelurahan. Namun masih 63 kasus yang belum diketahui lokasinya. Sedangkan jumlah orang yang masih menunggu hasil tes masih ada 346 orang. 

Peta kronologi dan perkembangan kasus corona di Jakarta



Selasa, 17 Maret 2020

Jumlah Bertambah 38, Total Pasien Positif Virus Corona Kini 172 Kasus

Jumlah Bertambah 38, Total Pasien Positif Virus Corona Kini 172 Kasus
JAKARTA, KOMPAS.com - Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona , Achmad Yurianto mengatakan bahwa hingga Selasa (17/3/2020) ada 172 kasus pasien positif virus corona atau Covid-19.

Jumlah Bertambah 38, Total Pasien Positif Virus Corona Kini 172 Kasus

Dengan demikian, jumlah ini bertambah 38 orang dari pengumuman terakhir yang dilakukan pada Senin (16/3/2020) sore.

"Total ada 172 kasus, kasus meninggal tetap lima orang," ujar Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Selasa sore.

Yuri menjelaskan, sebanyak 12 kasus didapatkan sejak Senin sore hingga malam.

"Sehingga sampai tanggal 15 (Maret 2020) ada 146 kasus," ucapnya.

Kemudian, jumlah ini bertambah setelah dengan hasil pemeriksaan spesimen yang dilakukan Balitbang Kesehatan. Jumlahnya dari data yang dicek saat itu bertambah 20 kasus.

Setelah itu, pemeriksaan yang dilakukan Universitas Airlangga memperlihatkan bahwa ada tambahan 6 kasus.

"Sehingga total ada 172 kasus," ucap Achmad Yurianto.